Arsip Bulanan: Mei 2012

Luka itu terbuka lagi

Jadi bermula dari postingan mak ira disini , makjeder..

Membuka hal-hal yang saking pahitnya gak mau gw kenang, tapi cukup diambil hikmahnya. Yang gw komen disitu barulah secuil dari drama keluarga yang harus keluarga besar gw alami taun kemaren.

Memecah belah kami, karena baik korban maupun pelaku adalah saudara juga. Bahkan pelakunya pun dulunya seorang korban. Ini mau nulisnya pun perut gw masi mules. Tapii memang baiknya gw tulis aja, sebagai pengalaman bagi semua orang tua diluar sana.

Semua kejadiannya bermula dari pengaduan seorang anak kecil cewe umur 5 tahun (kita sebut A) ke orang tuanya bahwa alat kelaminnya di pegang abang X dan bahwa temennya yang lain ditindih sama abang itu.Orangtuanya langsung kalap dong, tapi tetep berusaha tenang dan ngumpulin fakta (kagum juga gw, kalo gw pasti langsung ambil golok). Didapatlah fakta bahwa selain A, ada temen cewenya juga yang umur 7 taun ngalamin hal yang sama bahkan lebih buruk (kita sebut dia B).

Jadi orang tuanya A dan B ini melabrak rumah orang tua si X (yang waktu itu umurnya baru 13 taun). Dan menjelaskan pengakuan anak-anak mereka. Reaksi orang tua X ? Kaget setengah mati. Tapi karena berusaha tetap kooperatif dibawalah si X ini sama para orang tua tersebut ke Kantor Kepolisian terdekat.

Hasilnya? Bikin orang tua satu RT gak bisa tidur tenang kayaknya, si X ini ngaku bahwa korbannya gak cuma 2 anak itu tapii masih banyak. Dan gak cuma ke anak cewe tapi juga ke anak cowo. Masya Allah.

Makin miris setelah tau sepupu gw (waktu itu umur 10 taun) termasuk korbannya, berdasarkan pengakuan si X ini yang paling sering jadi korban ya temen-temen kecilnya yang juga tetangga dan rata-rata masih saudaraan itu.

Bagai kesamber gledek disiang bolong banget lah. Lebih kaget lagi begitu tau tempat kejadian perkaranya adalah Mushola milik neneknya X yang juga jadi tempat ngaji anak-anak kecil itu.

Pertanyaan besarnya tentu saja ” Kok bisa sih si X ini jadi sebejat itu?”

Keluarganya pun gak habis pikir, tapi setelah dibawa konsultasi ke psikolog anak, didapatlah pengakuan bahwa si X ini dulunya dapet pelecehan dari orang yang lebih tua dan menurut pengakuan dia adalah guru silatnya. Dan setelah itu, masih pengakuannya X, dia jadi penasaran yang kemudian membawa dia pada pornografi dan setelah gak tertahan lagi, jadilah dia pelaku.

Neneknya X yang masih adik dari almarhumah nenek gw adalah yang paling shock. Karena sehari-harinya X ini tinggal sama neneknya, ibunya-bapaknya kerja dan dia masih punya adik kecil.Neneknya X ini ustadzah ya dikampungnya, ngajar ngaji anak-anak sama ibu-ibu setempat gitulah.

Keluarganya merasa kecolongan, karena bertahun-tahun X ini gak pernah ngomong apa-apa dan gak keliatan mencurigakan juga. Sementara keluarga bibi gw ? yah begitulah, banyak air mata, dan secara fisik dan mental memang sangat melelahkan.Karena sepupu gw ini menurut ibunya memang keliatan agak aneh, lebih pendiam dan gak mau main keluar. Tapi ya gitu, ibunya ngiranya karena dia lebih seneng main PS dirumah.

Gak terbayang perasaan yang saat itu dirasakan sama sepupu gw dan juga korban-korban lainnya. Mereka yang rata-rata dibawah 12 tahun umurnya harus mengalami pengalaman semacam itu.

Setelah kejadian itu, X diungsikan keluar dari situ, dan tetap dapat terapi kata neneknya. Sepupu gw ? yah gw selalu ngingetin ibunya bahwa ini semua belum berakhir, dia harus tetep buka mata merhatiin anaknya. Karena takutnya ya korban yang bingung dan gak tau harus nanya ke siapa, gak ngerti perasaan yang dia alami, jatuh dan terjebak ke lubang yang lebih gelap dan berubahlah dia jadi pelaku. Persis seperti pengalaman X.

Alhamdulilah sejauh ini sepupu gw bisa bergaul lagi, mau keluar rumah, dan mulai sering bercanda lagi. Gw sih kalo liat mukanya masih sering gak tega. Duh jangan sampe ya Allah, jauhin anak gw dan anak-anak lain dari hal-hal semacam ini.

Bener banget kalo ada pepatah afrika (baru tau gw dari blognya mak ira kalo pepatah ini dateng dari afrika)  ” it takes village to raise a child”. Waspada dan terus waspada dalam menjaga apa yang telah Allah amanatkan pada kita ya ibuk-bapak sekalian.

Buat yang sudah jadi korban ? rangkul anak dan jangan tinggalkan dia dalam kebingungan. Jangan menyalahkan diri sendiri terus-menerus, fokus untuk menata menata mental anak kembali. Semangat dan terus semangat karena anak-anak bergantung pada kita para orang tua.

Dear Mr.Hubby…

Mau mellow yellow dikit gapapa kan ya? *ngomong sama sapose neng?*
Postingan ini adalah hasil ikut pengajian rutin ibu-ibu kantor hari rabu kemaren, yes  ini sekaligus pencitraan bahwa gw adalah wanita soleha yg rajin mengaji..

Isi materi pengajian kemaren sebenernya tentang keluarga sakinah, mawwadah warahmah. Tapi ada suatu bagian yang membuat ibu-ibu seruangan langsung merasa tersentil, suer seruangan loh bukan gw sendirian, yaitu bagian “Lebih banyak mengingat kebaikan suami daripada keburukannya” bagian ini masuk di pokok bahasan cara komunikasi yang baik, supaya komunikasi kita dan suami baik akan lebih baik kalo kita lebih banyak mengingat kebaikannya daripada kekurangannya.

Nah kami diminta untuk menulis sebanyak-banyak kebaikan suami yang di ingat dalam waktu 1 menit. Setelah selesai ustadzah nya bertanya

“Adakah diantara ibu sekalian yang menuliskan memberi nafkah sebagai kebaikan suami?”

Dijawab kompak “Enggak , itu kan kewajiban” serius kompak bok seruangan hehehehehe. Ustadzahnya sampe ketawa liat kelakuan emak-emak labil.Kemudian dijelaskan lah sama ustadzahnya

” Memang memberi nafkah itu kewajiban suami, tapi sadarkah ibu berapa banyak suami-suami di luar sana yang melalaikan kewajibannya? Sementara ibu-ibu disini walaupun memiliki penghasilan sendiri tapi suami ibu tetap memberikan penghasilannya sebagai nafkah untuk keluarga. Jangan sampai kita lalai untuk bersyukur dan baru sadar ketika kenikmatan itu hilang bu.”

Makjleb, gw sebagai yang terlabil langsung mingkem deh. Berasa soalnya sering banget gak menghargai kebaikan suami kuh. Si ganteng yang hampir 4 tahun ini gak pernah lalai sama kewajiban-kewajibannya.

Oia ada lagi yang lucu, jadi masih dibahasan cara komunikasi itu tadi sang ustadzah mencontohkan bahwa berkomunikasi untuk menjaga kemesraan dengan kalimat memuji atau merayu sangat dianjurkan. Gw mah manggut-manggut sambil bilang “ah gancil ini mah” dalem hati tapi, sebelah gw dongs langsung nyeletuk ” susah bu, dirayu dikit langsung dikira minta jatah ” huahahahahaha. Emang laki-laki semuanya sama.

Emang kadang susah menghargai kebaikan-kebaikan suami, yang buat kita perempuan dianggapnya gak penting atau sepele. Gw pernah baca wawancaranya tante widiawati setelah kepergian almarhum suaminya dia bilang aduh repot sekali karena bertahun-tahun mereka menikah si om Sophan yang ngurusin pembayaran tagihan ini-itu, bahkan si tante widiawati ini mengaku kebingungan karena gak tau dimana SPPT PBB nya disimpan. Barulah terasa, betapa suaminya selama ini mengurusi banyak hal untuk dia dan dia gak tau apa-apa. Hikss…

Duh kalo begini, rasanya ingin deh ngelonin suami seharian dirumah dipijit-pijit sambil ngobrol gak penting. My dear hubby, makasiih banget udah jadi suami yang baik, ayah yang hebat buat istri dan anaknya.

Kalo disebutin disini, takutnya banyak wanita yang mengincar kamu ah, jadi mending kebaikan-kebaikan mu ku simpan di hati saja (aleesaan, padahal malu takut dibaca ybs).

Suamiku sayang Semoga Allah selalu melindungi kamu dimanapun, dan pertanyaan pamungkasnya “kapan kita kemana bang?”