Category Archives: Family Story

Cerita Menggunakan BPJS Kesehatan Untuk Melahirkan

” Sayang bisa panggil bidannya sekarang aja gak? Kayaknya mau ngelahirin banget ini” sambil pasang muka *awas aja kalo lu lelet nanti gue cakar* sementara suami cuma bisa menurut, ya kali dia berani nantangin harimau mau beranak.

Jarum jam menunjukkan pukul 7 malam lewat sedikit, ketika bidan dari ruang sebelah datang dan berkata ” Aduuuh ibu kan baru setengah jam dari bukaan 4, sabar aja yaa sebentar lagi. Sekarang saya cek dalam lagi ya “

Gue pasang ekspresi *ini gue pengen ngeden sekarang*

Sementara sang bidan melakukan…yah entah apa dibawah sana.

” Astagfirullah, udah lengkap ini bukaannya. Jangan ngeden sekarang ya bu, sebentar saya siapin dulu peralatannya “.

Itu sekelumit keadaan yang terjadi di tanggal 4 April 2016, jangan tanya mulesnya waktu itu kayak gimana deh *sapa juga yang mau nanya* Alhamdulillah pukul 8:02 malam lahir puteri kedua kami (gue dan suami, bukan sama George Clooney karena poliandri itu selain dosa juga dilarang pemerintah).

Setelah lelah bertaruh nyawa demi melahirkan buah cinta dengan sehat dan selamat,  yang lebih melegakan kami tidak perlu ngeluarin duit satu rupiah pun untuk segala pelayanan kesehatan yang kami terima. Gratis. Dan bukan karena gue cantik mempesona dan soleha luar biasa, melainkan karena gue pake kartu BPJS Kesehatan.

img_20151213_1708301

Penampakan di minggu ke-36, sengaja pasang fotonya yang jauh dan tampak depan biar dipuji hamilnya tetep langsing dan cantik. Padahal mah aslinya kayak kebo. LOL

Gimana hati ibu pelit ini gak bahagia coba? Cuma bisa bilang Alhamdulillah *kemudian dana yang disiapin buat biaya melahirkan di tabung dicelengan ayam*

Banyak temen dan tetangga gue yang ragu untuk menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk melahirkan, konon kata mereka pelayanannya ribet dan jauh dari ramah. Gue sendiri sempat ragu sebelum akhirnya memutuskan pake kartu BPJS Kesehatan ini. Padahal terhitung hampir 7 tahun kami sekeluarga terdaftar sebagai anggota BPJS Kesehatan (dulunya ASKES).

Mamah kan mampu kok pake BPJS? BPJS Kesehatan kan buat orang miskin mah *sambil melotot ala Lely Sagita*

Huuusshhh!! Gini-gini mamah kan tagihannya banyak *ehh*

Enggak laah *kemudian keselek tagihan listrik*, sebenernya ketika umur kehamilan masuk minggu ke-36 si bayi dalam perut posisinya melintang dan terbelit ari-ari sehingga dikhawatirkan akan sulit lahir secara spontan pervaginam atau lahiran normal. Sementara asuransi kantor enggak mengcover biaya melahirkan untuk karyawati sama sekali *tatap nanar pak dirjen*

Biaya melahirkan melalui mekanisme operasi sectio caesaria atau sesar sendiri biaya aduhai sekali di Ibukota nan kejam ini. Biaya melahirkan melalui operasi sesar di Rumah sakit-rumah sakit sekitar Cibubur aja berkisar di angka 8 – 20 juta untuk kelas III (iyaa gak salah baca, itu kelas III bukan VIP).

Itu duit semua mamiiih, gak bisa dicampur daun pisang apalagi daun pintu *banting celengan ayam* apalagi kami baru aja bayar uang pangkal dan segela tetek bengek biaya masuk SD anak pertama yang angkanya juga aduhai. Bukannya mau ngerampas hak orang miskin atau gimana ya, tapi kan gue juga anggota *pasang senyum soleha*

Jadilah gue dan suami memutuskan, pake BPJS lah kita sayang. Persyaratan menggunakan BPJS Kesehatan untuk melahirkan sebenernya gak terlalu banyak tapi gak bisa dibilang mudah juga buat gue :

  1. Ibu hamil minimal memeriksakan diri di faskes (fasilitas kesehatan) tingkat I sebanyak 4 kali selama masa kehamilan (PR banget buat gue yang faskes tingkat I nya di Puskesmas deket rumah, sementara dari kantor jauhnya nauzubillah);

  2. Hasil pemeriksaan itu dicatatkan pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), buku ini harus selalu kita bawa baik ketika kontrol atau akan melakukan persalinan;

  3. Dari faskes tingkat I kita akan diberikan surat rujukan untuk melakukan persalinan di faskes tingkat II atau tingkat III (tergantung kondisi, dalam kasus gue faskes tingkat I tidak melayani persalinan);

  4. Foto kopi Kartu keluarga, Buku Nikah, KTP sebanyak 2 lembar dan kartu BPJS Kesehatan suami dan istri sebanyak 6 lembar;

  5. Perlengkapan melahirkan dan setelah melahirkan (semisal: kain sarung, daster berkancing, pembalut melahirkan dan baju untuk bayi) harap disiapkan dibawa sendiri (yaiyalah masa udah gratis terus ngarep dikasi macem-macem LOL);

Gue juga nanya-nanya pengalaman teman dan saudara yang melahirkan menggunakan fasilitas BPJS kesehatan ini, ehh ke blogger juga nanya dongs *lirik mba armita* Alhamdulillah makin yakin deh.

cover-buku-kia-2012

Iniloh penampakan buku Kesehatan Ibu dan Anak yang harus banget dibawa selalu kalian pengguna BPJS Kesehatan yang mau melahirkan                       pic source: buku-kia.com

Berhubung gue melahirkan di Puskesmas Kecamatan (sekarang namanya jadi Rumah Sakit Umum Daerah Tipe D) jadi tidak ada biaya kamar bayi dan sebagainya, sementara sepupu gue yang melahirkan di Rumah Sakit Swasta rekanan BPJS ada biaya tambahan bila bayinya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Laahh, emang bayi baru lahir bisa jadi peserta BPJS Kesehatan??

bpjs

mendaftarkan bayi dalamkandungan jadi peserta BPJS

Bisa dan harus kalo mau gratis semua-muanya.

Gue sendiri baru tau ketika sepupu gue melahirkan dan bayinya udah punya kartu BPJS Kesehatan *prok-prok-prok* nama yang tertulis di kartu adalah “Janin Nyonya (nama ibu)” .

Minimal pengurusan kartu untuk bayi ini ketika kehamilan si ibu menginjak 7 atau 8 bulan (jaga-jaga kalau melahirkan lebih cepat) karena pembayaran iuran pertama paling lambat 30 hari sebelum HPL dan kartu BPJS Kesehatan itu dinyatakan sah dan berlaku sejak pembayaran iuran pertama itu.

Semua persyaratan itu bisa dibawa ke kantor BPJS Kesehatan di wilayah terdaftar. Nanti setelah si bayi lahir baru deh dilakukan perubahan data sesuai nama dan NIK (nomor Induk Kependudukan) bayi itu.

Alhamdulillah setelah semua kerempongan ngurus ini-itu karena khawatir harus operasi sesar ternyata gak kejadian, bayi kami lahir melalui proses normal. Setelah dirawat selama dua hari di Puskesmas Kecamatan kami sekeluarga bisa pulang dan berbahagia dirumah sendiri.

img_20160405_174953

Penampakan si bayi ketika baru lahir dan sekilas ruang rawat inap di Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur

Oiyaa selama perawatan ibu dan bayi dirawat dikamar yang sama alias rooming in, bayi cuma diambil ketika mau dimandikan oleh bidan. Dan menurut gue semua bidan dan perawatnya PRO ASI BANGET-BANGET, karena tiap kali mereka ngecek (2 kali sehari untuk tensi dan pengecekan lainnya) pasti gue disuruh nyusuin supaya mereka liat kita udah bener apa belom perlekatannya.

Bisa gue katakan dengan yakin, gue puas dan gak nyesel udah pake BPJS Kesehatan ini. Perawat dan bidannya pun ramah dan yang pasti gak ada biaya tambahan apapun *ketawa bahagia*

 Jadi buat ibu-ibu yang sekarang lagi hamil dan galau kayak gue dulu, gausah galau lagi lah kalo mau pake si BPJS Kesehatan ini. Asal prosedur dan persyaratannya kita ikutin, dijamin gak ada yang ribet dan gak ramah. Sebagai sesama pelayan masyarakat *uhukk* yang seringkali bikin para frontliner itu kurang ramah adalah : orang-orang yang pengen dilayani secepet-cepetnya tapi persyaratan gak dibawa lengkap, terlalu mengandalkan petugas sementara petugas itu sendiri punya banyak orang lain untuk dilayani.

Salam super…

meme-mario-teguh

ingat-ingat kata pak maryono

Edisi Lebaran 1437 H

Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum..

Minal aidin wal faidzin

Mohon maaf lahir dan batin

Mamah yang tahun lalu mewakili keluarga Jolie-pitt maka tahun ini terpaksa mewakili keluarga Cendana cabang Cibubur, menghaturkan permintaan maaf setulus-tulusnya kepada seluruh pembaca blog ini baik yang namu dengan resmi atau yang sekedar ngintip-ngintip.

Maafin yee 🙂

 

Lebaran liburan kemana mamah etty?

Pepatah bijak mengatakan hanya keledai yang jatuh dilubang yang sama dua kali, tentunya pepatah ini gak berlaku untuk mamah sekeluarga doong.

Alhamdulillah kami lebih parah dari keledai, karena kami jatuhnya dua kali dilubang yang sama dan emang diniatin 😀

 

Hmmm… mulai kebaca nih ngawurnya, udahlah atuh to the point aja mamah…

Iye-iyeee mamah tahun ini ke daerah Sukabumi lagi, padahal tahun lalu udah ngritik abis-abisan daerah ini *kemudian diludahin bupati Sukabumi*

Hahahahaha abisnya demen sih *sungkem ama bapak bupati*

Bedanya kalo tahun lalu -cerita disini- kami mangkal bareng abang tukang cilok di Pantai Gurilap maka tahun ini kami lebih cerdas sedikit dengan milih Oceanqueen resort yang pantainya private.

Lah bukannya si mamah punya bayi? Kok berani jalan ke sana? Gak macet mah?

Yabes gimana atuh, kalo nurutin maunya si bayi mah kami sekeluarga bakalan ngendon dirumah nyemilin nastar bertoples-toples doang.

Jadi karena bayinya cuma sebiji dia dong yang harus ngalah *dipelototin kak seto* lagian takut kolesterol naik kalo nyemilin nastar melulu kan.

Jalan alhamdulillah lancar, ya jalannya aja jam 5 pagi dari rumah. Dan mobil dibuat senyaman mungkin buat si bayi tentunya biar gak semaput si bayi.

tips dari mamah: kalo mau bawa bayi pergi jauh pake mobil, usahakan sebelum berangkat dia dibikin nyaman di carseat nya dulu, setelah bayi pewe baru deh kita jalan. insya Allah 3 jam ajamah aman deh, sisanya situ pikirin sendiri yak.

Jam 11 siang (setelah 2 kali berhenti untuk istirahat, penting banget ini kalo bawa anak-anak) kami udah sampai di Cisolok, Pelabuhan Ratu padahal baru bisa check-in jam 1 dong ahahahaha.

Jadinya kami leyeh-leyeh di gazebo pinggir pantai sambil buka bekel makan siang berupa nasi dan semur daging beserta aksesorisnya. Pewe abis.

IMG-20160711-WA0003

Abis makan siang banyak yang tepar langsung tidur siang, abisnya perut kenyang ketemu angin sepoi-sepoi tuh bawaannya kayak ditidurin dinina boboin Nicholas Saputra gak sih, nikmeeeehhh…

Pemandangannya aja begini, gimana ga makin asoy bobok siangnya.

IMG-20160711-WA0002Sejam kemudian alias jam 12 kamar kami siap, pindah deh tidurnya ke kamar, adeeeem..

Oia kami dapet villa 3 bedroom nya via booking.com dengan harga 1,87 juta/malam, lumayan mursidah. Kalo mau lebih murah lagi mending booking langsung ke oceanqueen nya via telpon tapi minimal 2 malam kalo lagi musim liburan. Kalo lewat booking.com masih bisa sewa 1 malam ajah.

Another tips: gak usah sedih kalo gak kebagian nyewa villa yang pinggir pantai, karena yang garden view pun jaraknya cuma sepelemparan beha saja dari pantai

Jadi ngapain ajamah 2 hari satu malem?

Kegiatannya gak jauh dari berenang di kolam renang, mandangin pantai sama leyeh-leyeh ngemil.

Kok gak berenang dipantai ajah?

Karena ombaknya segede-gede alaihim gambreng, sama ajalah kayak semua pantai di daerah sini. Pernah mamah bahas juga di postingan tahun lalu, di klik atuh.

Daripada anaknya kebawa ombak sampe ke Tanjung Harapan kan mendingan di angon di kolam renang aja, dipantai cukup main pasir sama foto-foto sama tante-tante dan om-om alaynya ajah.

IMG-20160711-WA0012

IMG-20160711-WA0028Ya Allah suami gw penampakannya kayak  mas-mas tengil.

IMG-20160711-WA0048sayangnya masih kekecilan buat dikonsumsi

Makannya dimana mah?

Naaahhh, kayaknya kita semua ketulah abang tukang cilok deh, mengingat tahun lalu kita nista abis-abisan eksistensi mereka. Tahun ini kami sakaw cilok 😀

Karena oceanqueen ini private, maka gak ada tukang jualan apa-apa selain restoran cottage yang mana menunya gak beragam juga dan kalo mau nyari restoran lain agak jauh jalannya. Tapi peralatan dapur di villa lengkap kok kalo kita mau masak.

Dan kami tentunya masak, selain demi alasan kebersihan juga demi penghematan lah yaw. Tapi kita juga bisa minta tolong penjaga villa nya (tiap villa ada penjaga masing2 yang bisa dihubungi) buat bikinin kita barbeque.

Dan karena ini pelabuhan ratu maka kita pesta ikan bakar, ngarepnya sih bisa mamam lobster tapi dompet mengatakan tidak mampu. Maka cukuplah dengan 3 kilo ikan kuwek dan kerapu  (harganya 70 ribu/kilo belum termasuk bumbu bakar dan biaya masak) nikmatnya udah berasa sampe ubun-ubun.

Jadi tempatnya recommended mah?

Cencu sazaaa…

Walaupun agak jauh dan gak ada tukang cilok juga tukang es kelapa, mamah merekomendasikan tempat ini buat liburan keluarga.

Pantainya bersih banget, gak ada remaja touring ceria yang tiduran dipinggir pantai.

IMG-20160711-WA0037itu ibu-ibu galau yang keliatan menatap pantai dengan putus aja adalah mamah gw, nah kakek-kakek yang dipinggiran itu bukan tukang cilok karena gak bawa gerobak tapi engkong gw 😀

Nah ini kondisi pantai dipagi hari, agak kotor karena banyak sampah yang tersisa waktu air laut pasang. Kayaknya sampah-sampah itu kebawa dari pantai sekitar yang kotor banget gara-gara turis tak berperikemanusiaan.

Sekian pembahasan liburan lebaran 1437 H ini, semoga kita semua dipertemukan dengan ramadhan dan liburan lebaran 1438 H.

Aamiiinn *pake toa mesjid*

Parenting dan lika-likunya

Berhubung anak udah mau 2, pelan-pelan gw mulai kepikiran masalah ngedidik anak yang baik dan benar dan cocok dengan gw sekeluarga tuh yang model gimana sih.

Ebuseeettt telat banget yaa, secara anak pertama udah 6 tahun umurnya 😀

 

Terus selama ini anaknya dididik ala apa dong mah?

Terus terang sih gw gak menganut aliran tertentu, yang gw banyangin dulu tuh gw gak mau anak gw modelnya : ambekan (tet tot!! anak anda ternyata ambekan), manja gak keruan (Alhamdulillah sih enggak) dan pengennya anaknya tau dan paham agama yang dianut kami sekeluarga (terimakasih kepada sekolah dan guru ngaji, sumbangsih emaknya mah cuma 15% kayaknya).

Setelah tau hal-hal yang gw hindari dan yang gw harapkan bisa ada di anak- (anak) gw, barulah gw petakan kira-kira kami sebagai orang tua harus bagaimana.

 

Lah berarti udah sukses dong mah?

Apanyaahhh?!? seperti yang gw bilang berhubung gw cita-citanya punya anak gak ambekan ternyata Shira itu ambekan aja dong.

Tapi gw percaya, anak, seperti juga hal lainnya dalam hidup punya dua fungsi buat orang tuanya : anugerah supaya merasa bersyukur dan cobaan supaya pandai bersyukur.

Jadi yah anggap aja ambekan nih bocah kunyil satu sebagai cobaan.

Alhamdulillah *tapi tangan udah nyiapin karet buat nyelepet anak*

 

Terus sekarang kenapa mikirin masalah didik-ngedidik ini sih mah? Udah atuh jalanin aja lagi.

Karena kalo cobaannya dikali 2, takutnya sabar gw yang cuma ada sedikit ini makin abis. Jadinya ya mau-gak mau harus mikir gimana ini caranya supaya gak kedodoran di jalan (ini ngebayangin yang ngambek ada dua orang aja dengkul udah dredeg mamiih).

 

Sekedar mau berbagi, gw punya daftar kegagalan sebagai orang tua sepanjang enam tahun ini. Lumayan panjang kalo mau di jembrengin dimari, tapi kita coba kulik-kulik sikit aja lah ya tanggung imej udah rusak inih.

 

  1. Anak pertama ku yang udah 6 tahun itu tidurnya masih umpel-umpelan sama kami, alasan pertama tentu karena inkonsistensi gw sebagai emaknya yang bolak-balik susah pisah sama dia;
  2. Seringkali saat lelah untuk meredam perbedaan pendapat dan perdebatan (gak penting) antara gw dan shira, gw cenderung menggunakan kesuperioran gw sebagai orangtua dibandingkan diplomasi yang panjang lebar dan melelahkan itu. Pokoknya kalo ibu bilang gak boleh ya gak boleh. Titik :((
  3. Kesinisan gw dalam memandang kehidupan kadang begitu kuat, tentunya hal ini susah dipahami anak gw yang hatinya masih selembut sutra yah. Misalnya masalah : liat pengemis dijalan atau hal-hal kecil remeh temeh lainnya. Gw takut gw menularkan kesinisan ini secara tak disengaja. Kenapa sih ibu getir amat?? kebanyakan cicilan apa gimana?!? :((
  4. Kemalasan gw sebagai orang tua untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan enggak penting anak yang gw curigai justru membunuh rasa ingin tahu dan kecerdasan anak secara perlaha. Kenapa langitnya enggak warna pink aja sih bu, kan lebih cantik? Mbuhh Allah ngasihnya begitu sih *kemudian lanjut ngemil*

 

Ini nyusun daftar segini aja ibu udah pengen buang badan ke kasur terus nangis gerung-gerung loh nak. Makanya dikehamilan kedua ini gw banyak banget mikir ina-inu, gak sesantai waktu hamil pertama dulu. Gimana mau sellow coba, kalo gw dibayang-bayangi dosa-dosa parenting yang gw pikul :((

 

Kayaknya emang harus seriuuuusss banget mikirin dan nyusun langkah-langkah mendidik anak ini. Udahlah yaa, gw mau kontemplasi diri dulu sambil baca materi seminar parenting hasil nyomot sana-sini.

 

Kumpulan-kumpulin

Biasanya gw kalo hiatus lama sekalinya muncul yaa bikin postingan random.

Nah, sekarang gw mau begitu lagi *nyengir selebar-lebarnya*

Ini kumpulan percakapan gw yang gak penting – penting – gak mutu tapi yah dengan niatan mulia sebagai kenang-kenangan maka gw kumpulkan di blog ini.

 

#1

Di kamar tidur, ibu kuda nil sedang tiduran dengan bahagia bersama anaknya;

anak : Perut ibu sekarang besar sekali ya

ibu : iyalaaah kan ibu lagi hamil, jadi ada adek bayinya di perut makanya besar.

anak : pahanya juga besar sekali, emang ada bayinya juga?

ibu menarik napas dalam-dalam;

dalam keadaan ini sungguh sang ibu merasa karma itu nyata adanya, karena ibu bermulut silet ternyata melahirkan dan membesarkan anak yang tanpa dia sadar telah menyilet hati ibunya dengan membeberkan fakta bahwa paha ibunya besar sekali.

 

#2

anak : nanti kalo ibu udah tua, ibu meninggal dunia ya?

ibu menarik napas dalam-dalam lagi, duh gustiiii kenapa sih bocah ini belakangan demen bener ngomongin metong.

ibu : semua orang pasti meninggal sayang, gak harus tua. Kamu juga nanti meninggal.

anak : *muka polos* tapi ibu duluan kan? kan ibu lebih tua

ibu buang muka, auk ah gelap.

 

#3

suasana kantor akhir-akhir ini gak enak pake banget, rasanya kayak lagi tanggal tua terus tiba-tiba ada diskon gede-gedean dimana-mana terus duit terakhir di rekening lu dipinjem sama sodara buat kawinan anaknya.

sepet.

udahlah sepet kadang masih ada aja yang suka resek.

bapak-bapak gak jelas : lu cuti lama amat ngapain ty?

etty solehah : suami saya ulang tahun pak.

bapak-bapak gak jelas : lah ulang tahun aja pake cuti emang ngapain?

etty solehah : *muka bete* saya kalo suami ulang tahun pergi ke gunung kawi pak, ngelengkapin pesugihan biar cepet kaya gak capek  apalagi pake lembur-lembur sampe malem.

bapak-bapak gak jelas : yaelah ty jauh-jauh amat ke gunung kawi, yang deket aja ke gunung pancar sekalian nyari jamur.

etty solehah : jamur apaan?

bapak-bapak gak jelas : jablay dibawah umur hehehehehehe

etty buang muka ke tong sampah terdekat

 

 

 

Jangan Atuuh

Jam 3:30 pagi, mamah etty yang solehah udah nangkring dirumah mamahnya yang cantik dan jauuuh lebih solehah.

Bukan mau numpang sahur kok, minta lauk doang huahahahahaha.

Abisnya dirumah gw sahur nya pada jam 4 semua sih jadi kan sepii. Sering nya sih gw bangun jam 3 terus masak nasi sambil ngangetin lauk sebentar abis itu ke rumah mamah. Ngobrol-ngobrol pagi buta sama mamah-papah gw.

Oh so heavenly.

Televisi pas lagi nanyangin sebuah iklan yang bintangnya tuh mba in*eke.

Mamah: itu dia sampe sekarang gak punya anak ya?
Gw: punya kok dua mah.
Mamah: anak angkat?
Gw: iya. Tapi mau kandung atau bukan sama aja lah, anak juga mah.

Papah: iya zaman sekarang kan gak boleh sembarangan mah. Ngambil anak harus proses otopsi dulu. Ga kayak zaman dulu.
Gw: Laaahhh, adopsi kali pah. Adopsi. Jangan di otopsi dong, serem.
Mamah: sok kecanggihan sih ngomong nya.
Papah: *pura-pura ngunyah kentang rebus*

Bisa gak sih gw tiap pagi begini aja? Numpang makan sambil numpang ketawa.

Jangan ngira Papah gw sengaja melesetin kata loh, dia mah orangnya seriusan banget kalo ngomong hihihihihii beda banget sama anak-istrinya.

Ini mah murni Papah gw sok kecanggihan aja *kemudian dikutuk jadi kentang*

Jadi yang nyuri Siapa?

Ini kejadiannya dulu banget, waktu Gw sama adek gw si ulet bulu masih SD.
Mamah gw yang emang dasarnya jarang masak sering banget nyuruh kami beli lauk ke warung.
Di suatu hari yang cerah, adek gw disuruh mamah pergi beli lauk ke warung Padang.
Adek gw yang baik hati, tidak sombong tapi pelupa tingkat tinggi itu sudah dilengkapi catatan lauk yang mau dibeli.
Gak sampai sejam adek gw udah pulang tapi dengan muka sediiiih banget.

Mamah gw : adek kenapa? Mana lauknya?
Adek: sendal adek ilang mah.
Mamah gw : ilang? Kok bisa? Ada yang ngambil?
Adek: gak tau sendalnya.
Mamah gw : loh terus ini adek pake sendal siapa?
Adek: Adek gak tau mah.
Mamah gw : jadi sendal adek ilang terus adek pinjem sendal orang?
Adek: Adek gak tau sendalnya yang mana, jadi adek pake yang ini aja.

Mamah gw mulai mengendus keanehan cerita ilangnya sendal adek gw.

Mamah : jadi sebenernya sendal Adek ilang apa enggak?
Adek : enggak tau mah. Adek lupa sendal Adek yang mana.
Mamah gw : Masya Allah!!! Jadi adek nyuri sendal orang dong.

Adek gw pun cuma bisa menunduk lesu dengan muka super sedih.

Terpaksa lah mamah dan adek gw balik lagi ke warung Padang untuk mengenali yang mana sendal yang sebenarnya dan ngebalikin sendal orang yang dicuri ehh pake adek gw 😀

Pesan moral :

kalo kamu pelupa, janganlah pergi ke tempat-tempat yang mengharuskan melepas sendal

Edisi kembali dari peraduan

Hampura ya pirsawan-pirsawati sekalian, tanpa terasa blognya lumayan lama nganggur.
Alhamdulillah mamah sekeluarga sehat-sehat aja (yakali ada yg khawatir) cuma kurang fit dompetnya aja.
Heran dari dulu yang nambahnya rutin cuma lemak sama keriput, duit malah enggak *kedip manja*
Maklumin dah, mamah belom berani naikin tarif kayak ustadzah yang lain apalagi pasang tarif 80 juta/3 jam. Bukan apa-apa, bingung 3 jam mau ngomongin apa aja? Maklum mamah aslinya pemalu. Biar montok asal pemalu.
Sebagai pembukaan mari kita omongin kelakuan anak semata wayang Gw dulu aja ya. Sumber inspirasi utama ibu-ibu kalo bukan kelakuan anak kan kelakuan Suami, ya toh?
Pada suatu sore yang cerah, anak mamah yg manis dan soleha persis ibunya itu menyanyi dengan nyaring.

Terima kasihkuuu, ku ucapkan
Pada guruku yang kuruuusss..

Astagfirullahal adzim, anakkuu..
Jantung mamah mau mojrot dengernya. Kok kamu pilih-pilih begitu siih?!
Perasaan itu guru kamu satu sekolahan montok semua, jadi siapa yg kamu maksud??

Later on, setelah guggling sedikit ternyata harusnya tuh tulus bukan kurus. Nyebelinnya adalah, Shira kekeuh sumekeuh bener anaknya, kalo dia gak merasa salah dia gak mau dikritik walaupun bersifat membangun.

Jadi salah siapa?

Lemak dooong

Ah biarlah

Kejadian ini terjadi di pesta ulang tahun si neng kesayangan yang ke 5, di bulan September taun lalu. Untuk menghemat anggaran *uhuk, pemerintah bgt bahasanya* maka gw menunjuk diri sendiri dan adek gw si ulet bulu menjadi pembawa acara.

Pertimbangannya?
Karena kami murah, gratis malahan. Titik. Gak ada pertimbangan lain.

Acara anak-anak pastinya ada permainan dong, walaupun hadiahnya cuma chiki-chiki penuh msg dan tempat bekal murahan yang penting meriah.

Permainannya terstandar di dunia, disuruh nyanyi sama baca doa-doa islami. Maklumin yah, temen nya si neng kan rata-rata masih TK dan Islam semua agamanya.

Sampai di suatu ketika :
Gw : ayoo siapa yang bisa baca do’a dalam perjalanan?

Anak-anak figuran: saya-saya-saya *dengan semangat 45*

Ulet bulu : nah kamu, yang baju merah. Ayo sini maju.

Anak baju merah maju.

Ulet bulu : ayoo dibaca ya do’anya keras-keras biar temen nya denger semua.

Anak baju merah komat-kamit baca do’a.

Ulet bulu : aduuh suaranya kekecilan temennya gak bisa denger.

Gw : ayoo kalo suaranya keras nanti hadiahnya ditambahin.

Anak baju merah kemudian membaca do’a dengan lantang.

Tapi kok rasanya ada yg aneh ya, Gw memandang si ulet bulu yang juga keliatan bingung.

Anak baju merah memandang Gw, kayaknya kode minta chiki sekarung *cih, bocah matre*

Gw : yeeeeaaayyy pinteeerrr. Ini yaa hadiahnya *dengan kehebohan palsu demi toleransi*

Ulet bulu : terimakasih yaa.

Anak baju merah dengan bahagia menerima seplastik besar chiki dan kotak bekal murahan, tanpa tau masa depan kesehatannya telah dinodai.

Ulet bulu berbisik : itu tadi do’a apaan sih teh? Kok gw baru denger.

Gw : jangankan eluu, gw aja yang ngaji nya rajin baru denger.

Ulet bulu : wahh ngarang tuh bocah.

Gw : hushh, jgn suudzon. Siapa tau dia islamnya beda.

Ulet bulu : kurang ngaji kita kayaknya ya.

Alhamdulillah yah, kita bisa memetik hikmah dari kejadian disekitar kita. Apa hikmahnya ?

Jangan kebanyakan jajan msg lah, jadinya otak lemot. Dan perbanyak membaca do’a diperjalanan tentunya.

Yuk mari permisi, mau nganter mamah dedeh dulu ke pasar beli cabe.

Cita-citaku Ingin Menjadi..

 

Dipinggir pantai..

Shira : Ibu cita-citanya ingin menjadi apa?

Ibu : *menatap kejauhan dan menerawang lalu menarik napas panjang* ibu dulu pengen jadi desainer Shi..

Shira : apa itu disiner?

Ibu : *menarik napas panjang lagi* de-sai-ner itu yang kerjanya bikin-bikin baju (dalam hati khawatir Shira ngira desainer itu tukang jait)

Shira : Ooooooohhh bikin baju, kalo aku cita-citaku ingin jadi… PUTRI DUYUNG (nada yakin dan sangat mantap)

Ibu : *Yaelahhhhh, gw udah pake acara mikir berat-berat segala*

 

Di jalan pulang setelah 3 hari liburan dipantai..

Shira : Nenek cita-citanya ingin menjadi apa?

Nenek : Ingin jadi orang berguna

Ibu : *dalam hati berkata Cuiiihhhh, belom tau aja lu ini pertanyaan jebakan*

Shira : Berguna itu apa?

Nenek : Orang berguna itu yang sering nolong orang lain

Ibu : *Uhuuyyy dia juga kejebak, kita tunggu aja ntar juga kejengkang*

Shira : Oooooohhhh kalo aku, cita-citaku ingin jadi Putri duyung

Nenek : Hahhh??

Ibu : *ketawa setan dalam hati*

Kakek : Hehhh, cita-cita kok jadi putri duyung *esmosi dia*

Shira : Kenapa itu heh-heh sama aku? Aku mau jadi putri duyung!!!

Kakek : *kaget*

Ibu : *rasain lu semua, hahahahahahahahahahaha kelewat serius sih nanggepinnya*

Tentunya semua dialog ibu dilakukan dalam hati sambil menahan tawa yaa, kalo gw ketawa beneran takut disambit Nenek sama Kakeknya Shira pake cucian kotor 😀

Minder

Alkisah sepasang ibu-anak sedang keramas bersama..

anak : Ibu pake shampoo aku aja

ibu : kenapa emangnya?

anak : ini shampoo untuk muslimah luar biasa.

ibu : hah? engga deh kalo begitu, ibu kan hanya muslimah biasa saja nak *kemudian nangis di pancuran*

 

Dapet kosa kata dari mana si anak kunyil segede upil  :)))