Cinta dalam sepiring sambel

Sebagai orang indonesia tulen, gue di anugerahi kemampuan makan nasi berpiring-piring hanya bertemankan sambel. Tidak perlu ikan apalagi daging, kalau sambelnya udah paten cukuplah sudah.Jangan tanya jumlah kalori yang masuk ya, tutup mata aja deh kalau sudah begini.

Enaknya zaman sekarang, banyak banget yang jualan aneka jenis sambel dalam kemasan siap saji. Kalau zaman dulu rasanya enggak banyak sambel siap saji yang beredar ya, rasanya gue cuma tahu sambel bu Rudy yang di impor langsung dari Surabaya.

Sekarang? Sebut saja kepengen makan sambel jenis apa, pasti ada yang jual. Mulai dari sambel terasi pabrikan besar sambel sambel-sambel home made dengan resep keluarga dari berbagai daerah.

Sambal-tomat-2

pic source : janetdeneefe.com

Enaknya jadi orang Indonesia, karena beragamnya suku bangsa dan kebudayaan yang kita punya bikin sambelnya pun jadi unik-unik. Mulai dari yang berbahan baku standard seperti cabe dan tomat, sampai sambel berbahan ikan roa dari manado yang endess itupun ada.

Kebayang temen gue yang tinggal jauh dari indonesia rata-rata kangennya selain sama keluarga dan teman di tanah air juga kangen berat sama sambel di kampung halaman.

Keluarga gue sendiri punya 2 resep sambel yang selalu kami pakai sehari-hari, karena apapun lauknya pasti tersedia sepiring kecil sambel di meja makan.

Sambel tomat

10 buah cabai merah keriting (boleh dicampur rawit kalau suka lebih pedas)

1 butir tomat ukuran sedang

terasi bakar secukupnya

garam dan gula secukupnya

cara membuatnya pun gampang :

rebus cabai dan tomat sampai cukup empuk, lalu angkat daa tiriskan.

ulek dengan tambahan terasi, garam dan gula.

Nah ini yang versi rebus, kalau suami gue lebih suka yang versi mentah. Bahannya sama persis hanya saja cabai dan tomatnya tidak direbus melainkan langsung diulek dengan bahan tambahan.

Titik kritis pada pembuatan sambel terletak pada : bagaimana menakar terasi, gula dan garam sehingga rasanya pas. Kuncinya : banyak-banyak praktek alias coba-coba aja terus sampe dapet rasa yang disuka. Karena menurut gue gak ada resep baku untuk sambel, it’s all about your personal taste. Suka rasa terasi yang kuat, cuss pake terasi banyak-banyak.

Saat weekend, kadang gue menyempatkan buat stok sambel goreng yang kemudian disimpan dalam botol bekas selai. Sambel semacam ini sangat berguna untuk ibu-ibu bekerja yang terkadang malas disuruh bikin sambel sepulang kerja. Makannya sih enak, nguleknya itu loh sungguh menguras tenaga.

Sambel bajak ini dalam pembuatannya tidak melalui proses ulek-mengulek tetapi menggunakan food processor karena cabai yang digunakan banyak, bisa kekar nanti lengan hayati kalau ngulek cabai 250 gram 😀

Resep sambel goreng

250 gram cabai merah (boleh campur rawit kalau suka pedas banget)

10 butir bawang merah

5 butir bawang putih

terasi secukupnya

50 ml air asam jawa (di dapat dari hasil rendaman asam jawa dengan sedikit air)

gula merah secukupnya

garam secukupnya

lengkuas digeprek

daun salam dan daun jeruk masing-masing 2 lembar

minyak goreng secukupnya

cara membuat:

haluskan cabai dan bawang yang sudah dibersihkan dalam food processor, masukkan terasi, haluskan lagi, angkat lalu tumis dengan minyak goreng.

tumis sampai agak harum kemudian masukkan lengkuas, daun salam dan daun jeruk, tumis sampai cabai dan bawang matang.

masukkan air asam jawa, aduk rata, masak lagi sampai sambal agak kering. terakhir masukkan gula jawa yang sudah disisir.

angkat sambel lalu dinginkan.

masukkan ke dalam toples.

Itu resep sambel goreng terdasar sebenarnya, kalau suka bisa ditambahkan bahan lain supaya sambelnya terasa makin “nendang” misalnya: ikan teri, jambal roti atau ikan tongkol yang sudah dihaluskan. Dijamin bisa makan nasi berpiring-piring, kemudian gendut 😀

Apapun resepnya, menurut gue yang terpenting kalau memasak buat keluarga adalah rasa cinta yang besar yang hadir dalam proses memasaknya. Mungkin itu sebabnya ya, walaupun sudah bisa masak sendiri tapi masakan ibu dirumah akan selalu jadi yang terenak dan dirindukan anak-anaknya.

Semoga kelak anak-anak gue selalu merindukan masakan emaknya yaa, kemana pun mereka melangkah tapi hatinya tertambat dirumah.

P.S : Suamiku sayang, maafin aku yaa jarang bikin sambel akhir-akhir ini. Tau sendiri lah yaa kalau punya bayi kan repot kalau rumahnya bau sambel atau tangan ibunya pedes karena cabai 😀

nanti aku beliin sambel bu Rudy aja segerobak yaaa, i love you.

12 thoughts on “Cinta dalam sepiring sambel

    1. mamah-etty Post author

      Gak sanggup dah Put, gue bikin sebotol aja capek bener. Kalau bukan karena cinta Suami mah, ogaaah bikin sendiri.

      Reply
  1. Wadiyo

    sambel terasi emang teman yang pas untuk makan.
    apapun lauknya, kalau ada sambel semuanya jadi okay….
    salam kenal Mbak..
    habis dari blognya mbak swastika nohara, mampir deh ke sini.

    Reply
  2. Dani

    Huwowowowowo… Itutuh udah ada yang nanyain PO sambel buatan Mamah Etty. Btw buat sambel tomat direbus ya. Gue gak sehat banget ya semua bahannya digoreng. Apalagi minyaknya pake minyak bekas. Huahahaha…

    Reply
  3. Doena

    Mbnya lebih suka sambal tomat apa sambal goreng? Aku mau nyontek resepnya tp bingung mau nyobain yg mana dulu😁. Btw dulu pernah nyobain juga bikin sambal terasi tapi gagal

    Reply
  4. ar syamsuddin

    Wah jadi ingat masa bujangan di perantauan dulu nih, semua by my self. Dan di situ seninya bikin sambel terasi makan ditemani sayur asem dan ikan teri, sederhana tapi benar-benar nikmat ya mba, hehee.
    Salam dari saya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *