impian vs kenyataan

Sebagai ibu dan istri yang baik, siapa sih yang gak ingin manjain anak dan suami dengan makanan bikinan kita yang rasanya amburadul istimewa.

Nah menurut gw salah satu syarat bisa bikin makanan enak adalah dapur yang kondusif dan menginspirasi kita dalam memasak. Kebayang lah adegan gw memasak di dapur yang kinclong dan penuh perabotan canggih macam oven tangkring dan kompor yang mirip punyanya chef-chef di tipi.

Gambar diambil dari sini

Sementara suami alias mr.hubby punya khayalan bisa berendam aer anget di kamar mandi dengan bath tub tentunya masa pake ember 🙂 karena kebutuhan utama dia dirumah emang mandi secara kalo mandi bisa sejam aja gitu.

Gambar dari sini

Tapiiii kembali pada kenyataan hidup yang pahit, getir dan memilukan ini kayaknya mustahal deh gw bisa punya dapur dengan kitchen set oke dan perabotan canggih. Punya dapur darurat aja belum tentu. Bath tub? Hmmm kayaknya balik lagi pake ember deh.

Progress rumah terakhir adalah: sudah mulai pembangunan lantai kedua.

Progress dompet terakhir adalah: sudah mulai anorexia.

Hasil diskusi sama suami yang seperti biasa jadi melebar kemana-mana diputuskan untuk :

  • Lebih realistis dan mengesampingkan rencana-rencana yang kayaknya lebih tepat disebut khayalan. Jadi say goodbye to kitchen set, bath tub apalagi water heater. Dan mari kita sambut dapur darurat saja.
  • Mari kita fokus pada yang aksesoris rumah yang lebih penting dan gak bisa ditunda. Contoh : handdle pintu, duile mihil aja gitu harganya. Belom lagi gorden untuk jendela. Secara kalo udah jadi nanti rumah kita itu banyaak jendelanya masa gak dipakein gorden.

Jangan tiru kami kalo membangun rumah yaa, dompet melarat tapi selera konglomerat 😛

Jadi mari kita realistis dengan budget, bedewey seneng ih ngeliat rumahnya udah berbentuk rumah. Hihihi salahkan jiwa muda yang menggelora ini tapi rasanya jantung gw berdebar-debar kayak ketemu cowok ganteng pujaan hati setiap ngeliat rumah kami itu.

Biarlah dompet dan rekening menderita anorexia, biarlah untuk 5 tahun kedepan gw tambah medit. Yang penting punya rumah sendiri walopun kamarnya kecil-kecil dan tak punya kitchen set pun tak punya bath tub.

Kudos to me & my betterhalf 🙂

6 thoughts on “impian vs kenyataan

    1. emaknyashira Post author

      itu dia ries kayaknya emang aksesories yang penting-penting macam gorden ini yang mesti di duluin.

      kalo enggak pasti serasa akuarium kan?!hehehe
      Sukses mengisi dan menghias rumahnya ya, bedewey di daerah manakah? #kepo

      Oia jeung ijin nge link blog nya yah 🙂

      Reply
      1. riesta

        iya jeng,,,silahkan…
        rumahku di serpong garden tangerang…
        sekarang belum ditempatin,,,masih mw direnov lagi…
        lagipula aku masih di pekanbaru….heheheh

        Reply
  1. eka felira

    rumahku yg jendelanya seimprit aja bingung mikirin gordennya mak,, untung ama empunya rumah diwarisin gorden bulukan, lumayanlah 😀

    Tapi kalo kitchen set,, tetep berhayal punya yg semacam itu mak..
    mimpi kan gak bayar toh, sah sah aja toh..
    mari kita bermimpi….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *