Tentang Menjadi Perempuan

images

Women empower one another

Memberdayakan, saling menguatkan.

Bukan memperdayakan ya 😀

Tumben banget ya judul postingan diblog ini rada berat, ini gue lagi kesambet jin judulnya. Pernah gak sih kita merasa gak berdaya, gak bisa ngapa-ngapain, terbatas pilihan hidupnya karena terlahir sebagai perempuan.

Perempuan dan bukan laki-laki.

 

Mudah-mudahan sih enggak pernah ya dan jangan sampe deh.

Tapi percaya enggak sih kalo ternyata disekeliling kita masih banyak perempuan yang terjepit disituasi yang bikin mereka merasa begitu tidak berdaya sampai kadang mereka sedih terlahir jadi perempuan.

Sedih loh gue, di tahun 2016 masih banyak perempuan yang merasa bahwa situasi mereka yang sulit itu karena tidak terlahir sebagai laki-laki.

Contoh 1 :

Santi (34 tahun) ibu rumah tangga dengan dua anak usia sekolah. Setiap bulan mendapat jatah uang belanja sebesar 700 ribu dari sang suami yang bekerja sebagai supir pribadi. Uang sejumlah itu harus cukup untuk makan sekeluarga selama sebulan, uang jajan anak sekolah,tagihan listrik dan biaya gas.

Cukupkah uang sejumlah itu?

Tentu tidaaak.

Kenapa gak minta ditambah aja uang belanjanya?

Sudah dan tidak berhasil.

Berapa gaji suaminya?

Dia tidak pernah tau, yang jelas suaminya masih mampu membiayai hobby memancing setiap hari.

Akibatnya Santi menjadi sangat bergantung pada kebaikan hati orang tuanya yang pensiunan PNS untuk membiayai pengeluarannya setiap hari. Dia malas berkonfrontasi dengan suaminya karena pasti ujungnya pertengkaran yang biasanya diiringi dengan perginya sang suami dari rumah dan itu memalukan apalagi mereka masih menumpang di rumah orang tua.

Contoh 2 :

Mimi (40 tahun) ibu bekerja dengan 2 anak usia remaja bersuamikan seorang wiraswasta dengan penghasilan jauh dibawahnya. Tidak pernah mendapat uang bulanan dari suami. Semua pengeluaran dibayar sendiri oleh Mimi. Suaminya temperamen bahkan untuk hal remeh seperti telat membukakan pintu. Berkomunikasi dengan mesra bersama suami adalah kemewahan yang sudah hilang bertahun lalu.

Mimi pernah terjerat hutang kartu kredit ketika anaknya jatuh sakit dan butuh biaya besar, ketika suaminya tau pecahlah ketenangan dirumah mereka oleh bantingan gelas. Suaminya menuduh Mimi berselingkuh dikantor sampai punya hutang kartu kredit.

Dimana sang suami ketika anak mereka sakit?

ada dirumah.

Tau gak sih dia biaya rumah sakit mahal?

entah, yang jelas suaminya tidak pernah bertanya pada Mimi darimana uang yang dipakai untuk membayar biaya perawatan anak mereka.

Pernah Mimi terpikir untuk bercerai tetapi kemudian diurungkan niatnya, karena pernikahan mereka dulu awalnya ditentang orang tua Mimi dan kehidupan sebagai janda belum tentu lebih baik daripada keadaan dia sekarang.

Jadi perempuan ataupun jadi laki-laki sama-sama tidak gampang, tapi dalam beberapa hal keadaan untuk perempuan terasa lebih berat.

Imej sebagai janda lebih berat disandang dibandingkan imej sebagai duda, ini kenyataan.

Perempuan yang meninggalkan anak dianggap lebih kejam dibandingkan lelaki yang melakukan hal yang sama, karena kita sebagai perempuan dipandang sebagai ibu yang menjadi sumber kasih sayang dan kelembutan.

Banyak faktor yang menyebabkan komunikasi dalam rumah tangga mandek tapi bukan kapasitas gue buat menasehati Santi atau Mimi mengenai hal itu. Yang jelas PR mereka dibidang itu banyak banget.

Yang pengen banget gue bahas justru bagaimana kita menjadi kuat ketika keadaan memaksa kita menjadi lemah. Perceraian? Gue tidak menyarankan ini, dan menurut pemikiran gue kalo masih bisa diperbaiki ya harus diperbaiki kecuali memang membahayakan keselamatan jiwa.

queen bDirumah atau diluar rumah jadi perempuan itu tidak boleh menye-menye alias cengeng, bukan berarti harus kekar apalagi kasar karena kelembutan sendiri adalah kelebihan kita.

Uang bulanan dari suami kurang? Join MLM sis Banyak kok cara mudah dan relatif minim modal untuk nambah penghasilan. Mamah gw pernah menerapkan sendiri belasan tahun lalu.

  • Bikin makanan kecil untuk dititipkan dikantin sekolah atau warung-warung. Cari makanan yang gampang dibuat dan tidak cepat basi. Tidak jago memasak? Tidak perlu bisa memasak semua jenis masakan cari satu aja yang kita bisa dan poles deh resepnya. Lontong bikinan kamu enak? ya jualan itu aja. Bisa bikin kering kentang yang lumayan rasanya kenapa enggak dijual?
  • Jadi pembantu pulang pergi spesialiasi cuci setrika, ada tetangga gw yang menerapkan cara ini dan berhasil tuh. Hari gini siapa yang tidak butuh pembantu sih? Rasanya pembantu di kota besar tuh lebih banyak demand dibandingkan supply nya, terbukti tiap habis lebaran kan. Zaman sekarang justru pembantu yang bisa milih mau majikan yang mana 🙂
  • Mengajar les mata pelajaran atau baca tulis untuk anak-anak. Percaya gak kalo buka tempat les itu tidak perlu modal dan cuma perlu niat? Lagi-lagi dibuktikan oleh tetangga gue, seorang ibu rumah tangga lulusan SMA yang sekarang mungkin muridnya hampir 50 orang. Ngerasa kurang jago mata pelajaran anak zaman sekarang? Tenaaang selalu ada celah kok, asal kita bisa baca tulis dan matematika sederhana sudah bisa jadi pengajar. Modal terbesarnya justru di kesabaran dan ketekunan mengajar.
  • Menerima titipan anak tetangga yang orang tuanya bekerja. Daycare ala-ala. Anak yang dititipkan bisa kita urus bareng sama anak sendiri dan kita dapat penghasilan tambahan.

 

Apa hubungannya memberdayakan perempuan sama nyari penghasilan tambahan? Bukannya harusnya suaminya yang menambah jumlah nafkah? Iiih keenakan suaminya dong.

Tenang ibu-ibu sekalian, sekarang gue tanya “Pernah gak ketika kita suntuk banget sama kerjaan dan kemudian memutuskan mengoles lipstick warna cerah dan rasanya jadi lebih baik?”

Bahkan dalam Islam kita dianjurkan segera mandi atau berwudhu untuk menghilangkan rasa marah, emmm kalo itusih karena setan katanya terbuat dari api yang sifatnya tentu saja panas.

Back to topic, menurut gue sih karena kalau perempuan mampu mencari tambahan nafkah untuk dia dan keluarganya disaat keadaan sulit seperti Santi dengan sendirinya rasa percaya dirinya akan tumbuh. Saat rasa percaya dirinya sudah tumbuh itu dia bisa menata kembali cara berkomunikasi dengan suaminya.

Tapi kan perempuan kalau bisa nyari duit sendiri sering kurang ajar sama suami?

Oh helllooowww *tabok pake konde* Kurang ajar atau tidak kurang ajar itu bukan ditentukan dari bisa atau tidaknya nyari duit tapi akhlak. Titik.

Itu si Mimi bisa nyari nafkah sendiri tapi kenapa malah merana?

Nah inilah yang tadi gue bilang, kurang ajar atau gak kurang ajar itu bukan disebabkan duit kok. Kalo buat ibu Mimi sih gw cuma bisa mendo’akan semoga dia selalu mendapat kekuatan dan kesabaran.

Kalo mau dapet nasehat dan solusi yang mantap mendingan konsultasi ke Bu Rieny yang di tabloid Nova itu.

Lah kagak ngasih solusi? Terus buat apa dibahas panjang lebar?

Supaya kalo ada adek-adek dibawah umur nyasar ke postingan ini mereka bisa tau, begini loh aneka macam problematika rumah tangga. Rumah tangga itu bukan sekedar ayo kita nikah pake baju yang bagus terus dipajang di sosial media.

Rumah tangga itu lebih dari sekedar bobo-bobo lucu tapi halal, perlu kerja sama juga komitmen untuk terus bersama.

Jadilah perempuan yang bukan cuma cantik tapi juga penuh kekuatan ya adik-adik perempuan sekalian, karena memang lebih enak menghadapi problema hidup kalau alis sudah rapi dan lipstick sudah terpoles *ehhh*

Jangan pernah menyesal lahir sebagai perempuan, karena hanya kita yang bisa punya bibir sepasang tapi lipsticknya selaci penuh. Karena sebagai perempuan kita tetap bisa jadi yang terdepan.

Buat yang masih belasan, tolong lah sekali-kali baca koran yang bermutu jangan cuma main instagram atau snapchat. Jadi perempuan cerdas, jangan malah minder dan pura-pura bego supaya kelihatan lebih imut (?). Indonesia itu memberi banyak kesempatan buat perempuan maju kok, kita punya menteri bahkan pernah punya presiden perempuan.

Jadilah cerdas, kuat dan mandiri dengan sendirinya kamu pasti dihargai oleh laki-laki. Dengan sendirinya kamu hanya akan didekati oleh mereka yang tidak kalah cerdas dan tidak minder pada kemandirianmu.

Sebagai penutup..

aadc

Kebayang gak kalo filmnya dilanjutin pasti mereka ribut melulu, karena rumah tangga gak cukup dibacain puisi doang 🙂

13 thoughts on “Tentang Menjadi Perempuan

  1. Tia putri

    mah, kayaknya gak ikhlas bener sih cinta sama rangga berakhir di maghligai rumah tangga yang happily ever after *sigh*

    tapi yg pasti tulisan mamah etty yg serius ini, patut diacungi jempol!! cocok bin sepakat, jadi wanita itu harus cerdas, sehat, dan kuat (ane pernah bikin tulisannya loh mah).

    Reply
  2. santi

    santi? santi siapa mamaaaaaah? *bagi royalti gih 😀
    kalo baca2 pleus denger2 cerita cem di atas, rasanya tuh pengen meluk atm suami, eh suami deng. yang udah tulus, ikhlas, ridho mercayain istri buat ngelakuin apapun sepanjang istri banyak mau ini seneng. termasuk pegang atm dong aaah *teteeep yeee 😆😆😆😆

    Reply
  3. arman

    dari contoh di atas menurut gua masalahnya adalah komunikasi.
    tentang uang itu harus dibicarakan even sebelum menikah. berapa gaji masing2 trus gimana cara pengaturan keuangan keluarga. kadang emang ada orang yang gak ngomongin ini upfront akhirnya jadi masalah setelah menikah. sama kayak cerita pertama di atas. lha kok bisa istrinya gak tau suaminya gajinya berapa? dan jatah 700rb itu ditentukan oleh siapa?

    the main problem is communication.

    Reply
    1. mamah-etty Post author

      IMO,Kadang beberapa perempuan menghargai dirinya sendiri terlalu rendah Man sampai-sampai mereka merasa tidak layak mendapat cara komunikasi yang lebih baik.
      mereka menempatkan diri nyaris setara keset. Sedih.
      Perempuan kayak begini yang harus diajarin cara menghargai diri sendiri maka baru bisa dihargai orang lain.
      Setelah itu baru mereka bisa mengurai masalah komunikasi yang ada.

      Reply
  4. Dani

    Subhanallaah Maaaa… Semoga banyak yang tercerahkan sama postingan ini. Beneran kesambet ato lagi waras Ma? *Trus disembur aer comberan

    Share ya Ty share! 😀

    Reply
  5. Ranny

    Tombol love manaaa? Heheheh aq sukaaak tulisan ini! U rock mbak!

    Intinya, jadi perempuan harus mandiri yes, dan hargailah diri sediri. Pernikahan itu kompleks, banyak terjal, kelokan dan pemberhentian. Komunikasi penting banget. Saling tau apapun itu.

    Rumah tangga bukan sekedar bobo-bobo lucu tapi halal << indeed!

    Reply
  6. mrscat

    Ckckckck kamu kesambit jin mana? Hahaha. Well written mamahhhh. Perempuan harus kuat karena ada yg bergantung sama kita.

    Reply
  7. Allisa Yustica Krones

    Mamaaahhh!!! Kok bisa aku jadi sesetuju ini sama tulisanmu? Hahahahaha… Iyes, bener banget, jadi wanita itu harus cerdas dan kuat serta tentu bisa milih mana yang terbaik buat dirinya supaya bisa jalin komunikasi yang baik dgn org yg kelak jadi suaminya.

    Btw, itu aku jadi bayangin si rangga sama cinta berantem trus cuma dibacain puisi sama rangga..kalo aku jadi cinta udah ngamuk…hahahahha….tapi untunglah aku bukan cinta dan suamiku bukan rangga #inimakinanehkomennya 😀

    Reply
  8. swastikagie

    mamah….aku selalu ngakak walau postingan lumayan berat, apalagi part “bobo-bobo lucu tapi halal” bahasa ringan tapi mendalam

    setuju banget jadi perempuan itu, anugerah kalau gie bilang. Gimana nggak, jadi anak surga bagi bapaknya, jadi istri surga bagi suaminya dan jadi ibu surga ada di telapak kakinya (koreksi kalau ada yang salah)

    jaman sekarang makin gampang kok kalau mau cari rejeki (baca : uang) tambahan, bahkan yang tanpa modal (uang)bener kata mamah, butuh niat dan ketekunan aja.

    So bagi kita semua para perempuan, saling mendoakan agar diberikan kekuatan dan kesabaran *ketjup manja buat si mamah*

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *