Merapatkan Barisan

Belakangan ini gue lagi hobby menonton ulang stand up comedy nya Pandji Pragiwaksono yang Juru Bicara World Tour di Youtube, walaupun yang meng-upload bukan si empunya acara sih *sungkem sama mas Pandji*

I’ve been eyeing this guy for quite a long time, sejak stand up comedy muncul di Indonesia di 2011 lah. Bisa dibilang gue menyaksikan Pandji bertumbuh sampai dia sesukses sekarang. BTW, dia orang Indonesia pertama yang tour keliling dunia loh *tatap nanar media mainstream yang cuek sama hal ini*

Pandji-Pragiwaksono-Tur-Ke-24-Kota-Di-5-Benua

Pandji Pragiwaksono Tur Ke-24 Kota Di 5 Benua dan mamah gue gak kenal dia. Damn you Dangdut academy

Ada satu bit yang dia lempar dan menurut gue sangat menohok perasaan gue sebagai orang Indonesia. Bit itu ketika Pandji bertanya pada penonton yang hadir :

menurut kalian apa sih yang sudah dikerjakan bangsa lain dan belum dikerjakan sama bangsa Indonesia yang bikin kita enggak semaju mereka? (kurang lebih begini, mohon maaf kalo ada kata yang salah)

Kemudian penontonnya hening, persis kayak pas dikelas terus guru nanya pertanyaan yang susah. Dan memang pertanyaannya Pandji ini susah. Setelah keheningan sesaat dan beberapa jawaban yang ternyata kurang benar, Pandji memberikan jawaban atas pertanyaan ini.

Berkarya. Ini yang sudah dikerjakan bangsa lain dan belum dikerjakan bangsa Indonesia. Ini yang bikin orang Indonesia selalu jadi pekerja dan bukan pencipta karya. Bukan karena kita kalah pinter atau kalah canggih kemampuannya.

Orang Indonesia pinter-pinter kok, gak kalah sama orang dari negara luar. Kekayaan alam Indonesia luar biasa kok, lebih dari Singapura. Tapi kenapa bangsa kita begini-begini aja? Politik kah? Birokrasi kah? Apa sih yang bikin anak bangsa kita ogah berkarya?

Apa sih yang sesungguhnya mematikan kreatifitas anak bangsa kita untuk maju?

Let me share some fun fact :

  1. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berperan menyerap 97% tenaga kerja kita di tahun 2016;
  2. Pemerintah menaikkan target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi 110 Trilyun di Tahun 2017 ini;
  3. Menteri Keuangan Republik Indonesia mendorong Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) biayai sektor Manufaktur dan UMKM;
  4. Pemerintah menargetkan 8 juta UMKM merambah dunia maya di 2020;
umkm online

Justru mereka yang kecil-kecil ini yang bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi

Bukan bermaksud jadi corong pemerintah yah, tapi sebagai PNS ya kali dah gue ngejelekin Pemerintahan kita, lepas dari masih adanya kekurangan disana-sini. Tapi gue tau kita bergerak ke arah yang lebih baik kok. Ibaratnya nih ya, pemerintah udah nyediain dananya, menyiapkan regulasinya, tinggal UMKM nya mau manfaatin apa enggak.

Tapi kenapa kita masih jarang mendengar merek asli Indonesia mendunia? Ada memang merek-merek asli Indonesia yang mendunia tapi jumlahnya belum banyak *dadah-dadah ke jco dkk*

Jangankan jadi merek yang mendunia, jadi tuan rumah di negeri sendiri aja merek asli Indonesia masih megap-megap.

Kenapa anak-anak Indonesia masih jarang yang bercita-cita jadi pengusaha?

Sudah ada sih sekolah yang memasukkan kewirausahaan ke dalam kurikulum mereka tapi lagi-lagi jumlahnya belum banyak. Kebanyakan kita mendidik anak-anak kita untuk jadi pekerja. Sedih ya.

Ini yang bikin kebanyakan anak-anak Indonesia gak punya keberanian untuk jadi pencipta karya. Mereka merasa lebih aman menjadi karyawan yang digaji dengan jumlah yang pasti daripada terjebak dalam ketidakpastian dunia usaha.

Mereka takut. Mereka tidak berani.

Mau sampai kapan?

Masing-masing kita yang punya jawabannya.

Politisi korup itu mungkin akan selalu ada, birokrasi ruwet pun belum punah. Tapi mau sampai kapan kita biarkan ketakutan kita menguasai kita? Mau sampai kapan potensi anak-anak kita dikurung dalam ketakutan?

Kita, orang tua, ayah dan ibu dari calon penerus bangsa loh. Bukan main-main tugas kita menyiapkan mereka supaya bisa tumbuh jadi orang yang tangguh menghadapi tantangan zaman dan kemajuan.

Gue nulis begini bukan karena gue merasa udah meneukan jawaban atas semua pertanyaan ini. Gue menulis ini karena hati gue gelisah. Karena gue mau berbagi kegelisahan yang sama. Karena gue tau pasti gue gak mungkin sendirian.

Wahai kalian orang tua seumuran gue diluar sana.  Kita yang dibesarkan sebagai generasi pekerja, apa kita mau mendidik anak-anak kita dengan cara yang sama?

5 gagasan untuk “Merapatkan Barisan

  1. Silvi

    Kalo gue ti …. tampaknya masih akan mendidik anak anak gue menjadi generasi pekerja, karena gue udh kenyang merasakan kegagalan ortu yg usaha semasa gue remaja sampai dewasa, merasakan bagaimana rasanya dikucilkan keluarga besar. Sejak itu gue melihat bahwa kerabat yg bekerja lebih enak dan pasti, jd itu yg tertanam di kepala gue ty … org macem gue gini sih ya yg bikin gak kreatif dan mematikan jiwa enterprenership ya hahaha abiiss trauma masa lalu cyiinn .. looh kok jadi curhat, mungkin hrsnya belajar dr kegagalan ya

    Balas
  2. dani

    Bahkan gue yang sekarang aja lebih seneng jadi pekerja ketimbang mikirin mau buka usaha apa. Huks.
    Etapi gue berjanji ke diri sendiri buat bikin anak gue berani berinovasi Ty. Makasih ya udah diingetin.

    Balas
    1. mamah-etty Penulis

      Ayoo ifa mumpung masih muda, masih kuat kena turbulensi dunia usaha. Siapa tau jadi pengusaha wanita sukses kayak ibu martha tilaar atau muryati sudibyo.

      Balas
  3. ndu.t.yke

    aku pribadi sih emang dari jaman dahulu kala blm pny anak, pengennya mendidik anakku (cewek atau cowok) spy bs menghasilkan uang dr kerja sendiri (di rumah). ntah itu dgn kemampuan memasak, hasta karya (kek emaknya), bertukang, atau menjahit. atau sekalian bs motong rambut. perkara doi mo kuliah kedokteran atau elektro (spesifik ya…), terserah. yg jelas kudu membekali diri dgn kemampuan untuk menjemput rejeki diluar jadi pegawai/PNS/kantoran. klo ntar kuliah di UNSW (tetteup… spesifik maunya emaknya), kemampuan memasak kan bs bikin anak2ku nerima pesenan makanan, dia bs motong rambut temennya, bikin kerajinan tangan, dll. krn kemampuan kek begini2 ini yg dihargai sangat tinggi diluar negeri.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *