Review Film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody, Segelas Kenyamanan dalam Balutan “Bromance” Yang Kental

Buat Penggemar film pasti gak asing dengan judul “ Filosofi Kopi “ sebuah film karya anak negeri yang  sukses merebut perhatian bukan hanya penggemar film tapi juga penggemar kopi. Gak percaya? Lihat saja sekarang ada dua  kedai “Filosofi Kopi” di Jakarta, walaupun “tiwus” sang kopi legenda gak ada dalam daftar menunya.

Nah buat penggemar Film, lewat kisah di Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody inilah sutradara Angga Dwimas Sasongko mencoba memuaskan rasa penasaran kita pada kelanjutan petualangan dan persahabatan Ben dan Jody.

Apa sih hal terklasik yang menurut kamu bisa merusak persahabatan?

Jawaban gue selalu : DUIT dan CINTA

Dan itulah yang terjadi pada film ini, jalan persahabatan Ben (Chicco Jerikho)  dan Jody ( Rio Dewanto) digoyang oleh isu cinta juga. Siapa yang jatuh cinta? Pada siapa jatuh cintanya? Sebentaarr biar kita mulakan perjalanan ini dengan kisah awal perjalanan Ben dan Jody dengan kedai VW Combi nya bertualang di indahnya alam Jogja dan Bali.

Semua tampak begitu indah dan damai, sampai kemudian satu persatu barista andalan mereka mengundurkan diri demi mewujudkan mimpi masing-masing dan menghempaskan Ben dan Jody pada sebuah kenyataan yang pahit.

Di iringi alunan lagu “ Zona Nyaman” dari Fourtwnty, Ben mendapat ilham bahwasanya mereka harus kembali membuka kedai tetap di….JAKARTA. Padahal kan dulu kedainya yang di Melawai udah dijual buat modal bikin kedai keliling ini.

Akhirnya lewat perjuangan sedikit berliku, Ben dan Jody berhasil membuka kembali kedai “ Filosofi Kopi” mereka di Melawai. Dengan bantuan seorang investor cantik, Tarra ( Luna Maya) dan barista baru mereka Brie (Nadine Alexandra, yang sumpah mau di dekil-dekil kayak gimana juga tetap cantik paripurna) kedai mereka bukan saja buka kembali tapi juga makin sukses.

Kehadiran dua tokoh baru inilah yang membuat jalinan cerita Filosofi Kopi 2 ini terasa lebih kompleks dibandingkan film pertamanya dulu.

Dan konflik pun di mulai

Cinta dan dendam masa lalu mengguncang persahabatan Ben dan Jody. Formula yang bisa dibilang sangat klasik. Tapi seperti secangkir cappuccino di kedai kopi kesayangan kita, formulanya boleh klasik tapi gak melunturkan kenikmatan kita untuk menikmati setiap tegukannya.

Begitupun alur film ini, walaupun sejak separuh film gue sudah bisa menebak ke arah mana konflik akan bergulir tapi toh gue tetap menikmati setiap adegan yang disajikan. Ditambah penyajian keindahan alam kota Yogyakarta dan Toraja (selain juga Bali, Makassar dan Jakarta yang menjadi lokasi pengambilan gambar)  yang membuai mata, secara keseluruhan film ini enak di tonton. Sinematografinya sedap banget dah, film kedua yang bikin gue kangen kota Yogya setelah AADC 2 dulu itu.

Hal-Hal Yang Paling Gue Highlight dari Film Ini

  • Betapa kuatnya “ bromance “ tokoh Ben dan Jody, chemistry yang luar biasa dari pemeran-pemerannya bikin kita dengan mudah terhanyut pada konflik dan persahabatan mereka berdua di film ini.
  • Cintai apa yang kamu kerjakan, kerjakan yang kamu cintai. Seperti lirik lagu Foutwnty “ Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi”. Hati dan rasa yang membuat pekerjaan yang kita kerjakan berbeda dengan mesin atau binatang. Mirip-mirip nasehat mantan boss gue dulu nih : “ Kerja itu capek dan bikin pusing, makanya selalu niatkan untuk beribadah supaya kita enggak kehilangan nilai dalam hidup. Kalau kerja cuma asal selesai kamu nanti gak beda sama kuda atau sapi “
  • Banyak banget percakapan film ini yang penuh makna dan quoteable. Kekuatan permainan kata dari penulis scenario yang patut di acungin jempol. Ku sukaaaa.
  • Lagu-lagu di film ini enak gila. Kelar nonton film ini gue gak berhenti nyanyiin ” zona nyaman” nya fourtwnty di dalam hati. Chicco dan Rio ikutan ngisi soundtrack film ini loh. Selain mereka juga ada deretan musisi keren lainnya.

Kesimpulan gue setelah nonton film ini

Ini film yang sangat nyaman di tonton. Jangan berharap ada kejutan yang mencengangkan, alur dan konfliknya justru terasa nyata dan gak lebay. Satu-satunya yang kurang dari film ini menurut gue adalah chemistry Ben (Chicco) dan Luna Maya yang meranin Tarra. Entah mengapa tapi menurut gue chemistry nya justru kalah jauh dengan Ben dan Jody yang emang juwaraakk.

Satu lagi : Indonesianya itu alamnya indah dan kaya banget. Lewat secangkir kopi aja kita bisa dapat berjuta kisah dari tanah tempat kopi itu di tanam.

Di film ini ada beberapa daerah penghasil kopi yang ditampilkan dan sukses bikin gue terkagum-kagum. Ah semoga di masa depan segala kekayaan alam ini tidak rusak dan bisa dinikmati anak cucu kita.

Oiyaaa filmnya beredar mulai tanggal 13 Juli 2017, ayo nonton lah di bioskop jangan lupa ngajak orang-orang kesayangan. Kelar nonton tiketnya jangan dibuang yaa karena bisa ditukarin sama 1 gelas kopi di kedainya Filosofi Kopi.

Satu hal lagi 1 tiket film ini sama dengan 1 bibit kopi untuk ditanam di merapi sana. Sebuah sentuhan film ini yang juga bikin gue terharu.

Ayo yang penasaran sama kelanjutan kisah Ben dan Jody buruan nonton Filosofi Kopi 2 ini yaa.

3 gagasan untuk “Review Film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody, Segelas Kenyamanan dalam Balutan “Bromance” Yang Kental

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *