Arsip Tag: poligami

Surga yang …………. *ilang sinyal*

Pertama-tama dan terutama gw mau melakukan disclaimer yah :

postingan ini tidak untuk mengharamkan poligami, karena apalah mamah etty ini hanya butiran lemak yang menggumpal. Jadi tolong pak ustadz atau bu ustadzah itu sendal jepit sama botol bekasnya ditaro dulu, gak perlu atuh ditenteng apalagi dilempar ke mamah.

Setiap kali ada kasus poligami yang mencuat, udah pastilah grup-grup ibu-ibu dimana-mana memanas. Kadang grup bapak-bapak ikutan heboh sih, tapi mereka mah hebohnya beda, lebih bernuansa penasaran ditambah dengan sedikit …… emmm kepengen mungkin 😀

Kalo ibu-ibu mah asli panas, dikupas lah itu penderitaan istri yang dimadu begina-begini, suaminya yang konon katanya begini-begitu (padahal kenal juga kagak, haha).

Kalo sedemikian pahit tolong atuh lah jangan pake istilah dimadu,nama yang lebih cocok diracun kayaknya *kemudian diracun grup bapak-bapak*

Tapi apa iya sepahit itu buibu?

Berdasarkan pengalaman hidup gw yang dekat dengan orang-orang yang berpoligami *lirik sanak pamili betawi ku* dan juga kebetulan punya sodara dekat yang menjadi istri kedua alias “madu” jadi bisa dikit-dikit gw simpulkan beberapa hal dari poligami yang banyak terjadi lingkungan sekitar gw.

1. Seburuk-buruknya istri pertama mereka ceritakan pada anda,jarang banget laki-laki pelaku poligami yang  menceraikan istri pertamanya.

Jadi kalau anda wanita dan sekarang sedang didekati pria beristri dan dia berjanji akan segera menceraikan istri pertamanya, tolong suruh dia datang lagi kalau surat cerainya sudah jadi.

Mereka pasti punya sejuta alasan kenapa belum juga punya surat cerai, kasian anak-anak masih kecil lah, nanti kalo anak-anak udah selesai sekolah lah, apalah-apalah. Percaya deh, hal itu gak akan terjadi.

Kok yakin amat mah?

Jadi bibi ada gw yang udah 18 tahun menjadi istri kedua, dia selalu mendengar versi sang suami betapa judes dan menyebalkan sang istri tua. Istri tua digambarkan sebagai orang yang pelit, tidak sopan pada suami, dingin dan tidak perhatian.

5 Tahun pertama sang suami beralasan anak-anaknya masih kecil, kasian kalo mereka melihat orang tuanya bercerai (kalo ngeliat orang tuanya ribut tiap hari gak kasian ya pak?!?). Lewat 5 tahun sang suami beralasan menunggu pensiun supaya pengurusan pensiun dia nanti tidak bermasalah (uhuk pegawai negeri nih yee).

Setelah pensiun apakah akhirnya dese cerei? Oh tentu tidaaaaakkk *kemudian bibi gw lari ke pantai* sampe semua anaknya menikah dan beranak pinak perkawinan mereka tetap bertahan tuh. Nasib bibi gw gimana? Ya tetep jadi yang kedua, yang bahkan pada hari perkawinan anak-anak tirinya dia gak di undang.

Yahh mengakhiri pernikahan emang sesuatu yang sulit sih ya, Mcdreamy aja butuh waktu :

Derek: [to Meredith]

Look I was married for 11 years. Addison is my family. That is 11 Thanksgiving’s, 11 birthdays, 11 Christmas’s, and in one day I am supposed to sign a piece of paper and end my family? A person doesn’t do that, not without a little hesitation. I’m entitled to a little uncertainty here. Just a moment to understand the magnitude of what it means to cut somebody out of my life. I am entitled to at least one moment of painful doubt and a little understanding from you would be nice.

2. Perempuan selalu jadi pihak yang disalahkan.

Kalo ada laki-laki yang tiba-tiba diketahui publik melakukan poligami, otomatis pandangan segera tertuju pada istri pertamanya. Oooh pantes istrinya kurang kece, ah pasti gara-gara istrinya gak perhatian nih, ihh ini mah servisnya kurang total.

Setelah puas mengomentari istri pertama biasanya dilanjutkan dengan mengamati dan mengomentari sang “madu”. Aaaah inimah keliatan nih, pasti laki-lakinya digodain duluan, gatelan nih cewek. Iiiihh kok cakepan istri tuanya, dipelet nih pasti 😀

Padahal siapapun tau, namanya hubungan itu terjadi karena kesepakatan dua pihak. Bukan cuma perempuan wooy, itu laki-lakinya punya peranan juga. Bahkan seringnya ketika istri pertama tau ada wanita lain dalam rumah tangganya, siapa yang diserbu? Yaa istri mudanya *lirik jeng mayangsari*

Jadi pikir-pikir lagi deh yaa kalo mau jadi orang ketiga di rumah tangga orang lain. Siapin mental kalo perlu siapin pager rumah yang kuat dan anti jebol walopun ditubruk pake truk tronton.

3. Kerepotan yang muncul setelah poligami kadang gak setimpal sama kebahagiannya.

Ini asli dan bukan mamah buat-buat untuk menakut-nakuti pihak laki-laki loh ya. Encang gw (kakak lelaki mamah) tersayang pernah bilang (saat itu istrinya masih 3, sekarang tinggal 2 dan yang pertama gak dicerai tuh) :

Kawin lagi itu gampang, yang susah itu ngurusinnya setelah dikawin.

Karena 2 istri = dua kali pengeluaran rumah tangga wahai bapak-bapak sekalian 😀

Ah duit saya mah gak berseri nomornya mah, jadi cuma ngasih belanjanya aja mah gampang.

Kalo itungannya mamah bikin begini :

2 istri = double drama

Istri satu aja dramanya bukan main loh, udahlah drama cerewet pula. Kalo dikali dua bayangin deh puyengnya, kalo masih kurang coba bayangin dari dua istri itu anda punya 4 balita yang super rewel atau sakitnya barengan.

Inget kewajiban mengurus dan mendidik anak bukan cuma pada ibunya tapi juga ada dipundak bapaknya.

Sebenernya kalau semua laki-laki memikirkan dan menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga dengan segala konsekwensinya, yakin deh pasti sedikit banget yang maju melangkah ke ranah poligami.

Oooohh jadi mamah nuduh yang ngelakuin poligami itu kurang tanggung jawab gitu mah?

Ishhh jangan disimpulkan ke arah situ dong ah *brb pake rompi anti peluru*

Hanya saja kebanyakan orang justru gak memikirkan konsekwensinya akan sampai sejauh itu. Encang gw sendiri sempet keteteran dengan istri-istrinya, ditambah beberapa drama yang muncul dari pihak anak.

Dan setelah beberapa tahun menjalani dia sempet bilang, kalo bisa diulang lagi dia gak akan poligami, karena capek banget ya bray ternyata *puk-puk encang*

Kok mamah gak ngutip ayat Al quran sama hadist sih mah? Kan kesan religiusnya jadi kurang..

Yakeleuuusss, lagian ini bukan ditinjau dari sudut agama kok. Kalo mau pandangan yang akurat dari sudut itu, sila kunjungi bapak/ibu ustadz/ustadzah yang menurut anda paling baik ilmu agamanya.

Ya mamah kan hanya butiran lemak yang menggumpal, bisanya yaa nyinyir doang cyyyn 😀